PHOTO
JOURNEY

SAVING THE LAST TIGERS IN INDONESIA

PHOTO
JOURNEY

SAVING THE LAST TIGERS IN INDONESIA

FOTO JOURNEY

Foto Journey adalah gagasan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh Tn. Parrot dan Yayasan SINTAS Indonesia yang bertujuan untuk menceritakan tentang kegiatan SINTAS melalui serangkaian foto kegiatan dalam mendukung upaya konservasi satwa liar di Sumatera, khususnya Harimau Sumatera. Yayasan SINTAS Indonesia adalah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang berfokus pada konservasi satwa liar, khususnya kucing liar yang dilindungi.

FOTO JOURNEY

Foto Journey adalah gagasan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh Tn. Parrot dan Yayasan SINTAS Indonesia

yang bertujuan untuk menceritakan tentang kegiatan SINTAS melalui serangkaian foto kegiatan dalam mendukung upaya konservasi satwa liar di Sumatera, khususnya Harimau Sumatera. Yayasan SINTAS Indonesia adalah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang berfokus pada konservasi satwa liar, khususnya kucing liar yang dilindungi.

Setelah melalui proses panjang, SINTAS dan Tn. Parrot sepakat untuk memulai kegiatan yang akan dilakukan di Salareh Aia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kami mendokumentasikan kegiatan PAGARI Salareh Aia. PAGARI Salareh Aia adalah salah satu dari 7 PAGARI di Sumatera Barat. PAGARI adalah komunitas Patroli Desa setempat yang dibentuk oleh BKSDA Sumatera Barat bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Pusat Perlindungan Orangutan (COP).

Setelah melalui proses panjang, SINTAS dan Tn. Parrot sepakat untuk memulai kegiatan yang akan dilakukan di Salareh Aia, Kabupaten Agam

Sumatera Barat. Kami mendokumentasikan kegiatan PAGARI Salareh Aia. PAGARI Salareh Aia adalah salah satu dari 7 PAGARI di Sumatera Barat. PAGARI adalah komunitas Patroli Desa setempat yang dibentuk oleh BKSDA Sumatera Barat bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Pusat Perlindungan Orangutan (COP).

TN. PARROT x SINTAS INDONESIA

EXPLORE LIFE

SAVING THE LAST TIGERS IN INDONESIA

TN. PARROT x
SINTAS INDONESIA

EXPLORE LIFE

SAVING THE LAST TIGERS IN INDONESIA

Amirudin

Amirudin

Kemudian Tn. Parrot mencari peserta yang akan disponsori untuk pergi ke lapangan dan mendokumentasikan kegiatan. Seorang pemuda dari Indonesia timur, Labuan Bajo, bernama Amirudin berhasil mendapatkan sponsor untuk pergi langsung ke Sumatera Barat.

Amirudin adalah seorang pemuda yang aktif dalam mendukung konservasi alam di Taman Nasional Komodo, dengan bakat fotografi yang sangat baik, Amirudin atau yang sering dipanggil Bang Amir, mendapat kesempatan luar biasa ini. Sebelum keberangkatannya, Amir diberikan pengetahuan dasar tentang kegiatan dan apa yang ingin dia sampaikan melalui dokumentasi yang akan diambilnya.

Amirudin

Amirudin

Kemudian Tn. Parrot mencari peserta yang akan disponsori untuk pergi ke lapangan dan mendokumentasikan kegiatan.

Seorang pemuda dari Indonesia timur, Labuan Bajo, bernama Amirudin berhasil mendapatkan sponsor untuk pergi langsung ke Sumatera Barat. Amirudin adalah seorang pemuda yang aktif dalam mendukung konservasi alam di Taman Nasional Komodo, dengan bakat fotografi yang sangat baik, Amirudin atau yang sering dipanggil Bang Amir, mendapat kesempatan luar biasa ini. Sebelum keberangkatannya, Amir diberikan pengetahuan dasar tentang kegiatan dan apa yang ingin dia sampaikan melalui dokumentasi yang akan diambilnya.

PERJALANAN PUN DIMULAI…

Pada tanggal 31 Desember 2023, Amir berangkat dari Labuan Bajo dan Tiba di Jakarta untuk

bertemu dengan Rian, Anggota Tim Tn. Parrot yang menemaninya di lapangan.

PERJALANAN PUN DIMULAI…

Pada tanggal 31 Desember 2023, Amir berangkat dari Labuan Bajo dan Tiba di Jakarta untuk bertemu dengan Rian, Anggota Tim Tn. Parrot yang menemaninya di lapangan.

Sintas new (30 of 28)
Sintas new (29 of 28)

Pukul 9 malam Waktu Indonesia Barat, Rian dan Amir tiba di Kota Padang. Kami segera membuka agenda pertama dengan bertemu dengan Tim SINTAS di Kantor SINTAS Padang pukul 10 malam. Di sana, kami juga berkoordinasi dengan perwakilan BKSDA Sumatera Barat.

Pertemuan ini membahas implementasi teknis sebelum pergi ke lapangan dan Tn. Parrot menerima saran tentang perilaku harimau liar dari kepala Resort BKSDA Agam Sumatera Barat.

Pukul 9 malam Waktu Indonesia Barat, Rian dan Amir tiba di Kota Padang. 

Kami segera membuka agenda pertama dengan bertemu dengan Tim SINTAS di Kantor SINTAS Padang pukul 10 malam. Di sana, kami juga berkoordinasi dengan perwakilan BKSDA Sumatera Barat.

Pertemuan ini membahas implementasi teknis sebelum pergi ke lapangan dan Tn. Parrot menerima saran tentang perilaku harimau liar dari kepala Resort BKSDA Agam Sumatera Barat.

TN. PARROT
X SINTAS

MAKING A DIFFERENCE

FOR PEOPLE AND PLANET

MAKING A DIFFERENCE

FOR PEOPLE AND PLANET

Keesokan harinya, agenda kami adalah mendokumentasikan kegiatan patroli PAGARI Salareh Aia. Perjalanan ke titik tujuan [Desa Salareh Aia] adalah pengalaman yang sangat menantang karena rutenya jalan tanah yang licin akibat hujan deras dan rentan terhadap tanah longsor. Mobil yang kami kendarai tidak bisa melewati rute berikutnya sehingga kami harus beralih ke mobil lapangan BKSDA Sumatera Barat yang dirancang untuk menaklukkan rute ekstrem ini untuk melanjutkan perjalanan.

Keesokan harinya, agenda kami adalah mendokumentasikan kegiatan patroli PAGARI Salareh Aia. 

Perjalanan ke titik tujuan [Desa Salareh Aia] adalah pengalaman yang sangat menantang karena rutenya jalan tanah yang licin akibat hujan deras dan rentan terhadap tanah longsor. Mobil yang kami kendarai tidak bisa melewati rute berikutnya sehingga kami harus beralih ke mobil lapangan BKSDA Sumatera Barat yang dirancang untuk menaklukkan rute ekstrem ini untuk melanjutkan perjalanan.

“Ketika saya melihat rute ekstrem, saya pribadi berpikir bahwa akan tidak mungkin bagi kami untuk mencapai tujuan kami dengan mobil. Berkat kekuatan dan ketangkasan sopir kami, kami berhasil melewati rute ekstrem ini.” – Rian

Sekitar pukul 11.30 WIB kami tiba di lokasi atau pos di mana kami bertemu dengan semua anggota PAGARI. Kami disambut oleh tim PAGARI dan saling memperkenalkan diri serta menyampaikan tujuan kami.

“Ketika saya melihat rute ekstrem, saya pribadi berpikir bahwa akan tidak mungkin bagi kami untuk mencapai tujuan kami dengan mobil. Berkat kekuatan dan ketangkasan sopir kami, kami berhasil melewati rute ekstrem ini.” – Rian

Sekitar pukul 11.30 WIB kami tiba di lokasi atau pos di mana kami bertemu dengan semua anggota PAGARI. Kami disambut oleh tim PAGARI dan saling memperkenalkan diri serta menyampaikan tujuan kami.”

Setelah ngobrol, kami makan siang dan waktu briefing dengan PAGARI, SINTAS, dan BKSDA Sumatera Barat. Kami diberitahu bahwa patroli PAGARI adalah kegiatan rutin PAGARI yang dilakukan dengan berjalan di sepanjang perbatasan desa dan kawasan lindung Maninjau untuk melihat jejak harimau Sumatera. Jejak yang diamati termasuk: jejak kaki, goresan, kotoran, dan sebagainya. PAGARI juga memeriksa kondisi kamera pengawas yang dipasang di titik-titik tertentu di mana harimau pernah tertangkap melintas.

Setelah bercengkrama, kami makan siang dan waktu briefing dengan PAGARI, SINTAS, dan BKSDA Sumatera Barat.

Kami diberitahu bahwa patroli PAGARI adalah kegiatan rutin PAGARI yang dilakukan dengan berjalan di sepanjang perbatasan desa dan kawasan lindung Maninjau untuk melihat jejak harimau Sumatera. Jejak yang diamati termasuk: jejak kaki, goresan, kotoran, dan sebagainya. PAGARI juga memeriksa kondisi kamera pengawas yang dipasang di titik-titik tertentu di mana harimau pernah tertangkap melintas.

Kami dipandu oleh tim PAGARI untuk mengikuti patroli. Cuaca saat kami berangkat cukup mendung dan tentu saja kami membawa jas hujan jika hujan datang.

Di perjalanan kami, kami melewati sawah dan aliran sungai. Ketika kami tiba di sawah yang masih kosong, kami tidak menemukan tanda atau jejak harimau.

Setelah melewati sawah, kami harus naik untuk mendaki beberapa meter. Ketika kami sampai di atas, kami melihat banyak pohon yang tumbang dan sengaja ditebang.

Di hatiku terlintas, “konflik ini terjadi bukan karena harimau masuk ke tanah mereka, tetapi karena mereka mengambil alih habitat harimau” hanya sebuah asumsi.

Kami dipandu oleh tim PAGARI untuk mengikuti patroli. 

sesampainya di atas kami melihat banyak tehampar pohon-pohon yang sudah tumbang dan sengaja ditebang. Dalam hati saya terbesit “konflik ini terjadi bukan karena Harimau yang masuk ke lahan mereka, tetapi mereka yang sudah merampas habitat Harimau” hanya asusmsi.

Setelah melewati sawah, kami harus naik untuk mendaki beberapa meter.

Ketika kami sampai di atas, kami melihat banyak pohon yang tumbang dan sengaja ditebang. Di hatiku terlintas, “konflik ini terjadi bukan karena harimau masuk ke tanah mereka, tetapi karena mereka mengambil alih habitat harimau” hanya sebuah asumsi.

JEJAK KAMERA TRAP

Setelah beberapa menit berjalan, kami tiba di titik jebakan kamera pertama. Tim PAGARI memeriksa dan mengganti baterai jebakan kamera. Di titik pertama ini, kami masih tidak menemukan jejak harimau Sumatera. Selanjutnya, kami menuju ke titik kamera kedua. Lokasinya tepat di tepi hutan.

JEJAK KAMERA TRAP

Setelah beberapa menit berjalan, kami tiba di titik jebakan kamera pertama.

Tim PAGARI memeriksa dan mengganti baterai jebakan kamera. Di titik pertama ini, kami masih tidak menemukan jejak harimau Sumatera. Selanjutnya, kami menuju ke titik kamera kedua. Lokasinya tepat di tepi hutan.

Di perjalanan, kami turun ke lembah dan terkena hujan deras di sana. Kami segera mengenakan jas hujan dan begitu semuanya siap, kami langsung melanjutkan perjalanan kami.

Di perjalanan, kami turun ke lembah dan terkena hujan deras di sana. 

Sintas new (19 of 28)

Kami segera mengenakan jas hujan dan begitu semuanya siap, kami langsung melanjutkan perjalanan kami.

Sintas new (21 of 28)
Sintas new (13 of 28)

Tiba di lokasi kedua, kami istirahat di bawah pohon jengkol sambil memeriksa kamera pengawas.

Sintas new (12 of 28)

Kamera ini menangkap gambar monyet lokal.

Setelah memeriksa dan menginstal kembali kamera, kami mendiskusikan apakah akan melanjutkan perjalanan ke kandang komunal atau melanjutkan ke esokan harinya dan kami semua setuju untuk menyelesaikan aktivitas saat itu juga.

Sintas new (13 of 28)
Sintas new (12 of 28)

Tiba di lokasi kedua, kami istirahat di bawah pohon jengkol sambil memeriksa kamera pengawas. Kamera ini menangkap gambar monyet lokal.

Setelah memeriksa dan menginstal kembali kamera, kami mendiskusikan apakah akan melanjutkan perjalanan ke kandang komunal atau melanjutkan ke esokan harinya dan kami semua setuju untuk menyelesaikan aktivitas saat itu juga.

Kami tidak kembali melalui rute yang sama, tetapi kami diarahkan dan dipandu oleh tim PAGARI untuk mengambil rute sepanjang sungai, habitat buaya di Salareh Aia.

Kami tidak kembali melalui rute yang sama, tetapi kami diarahkan dan dipandu oleh tim PAGARI untuk mengambil rute sepanjang sungai, habitat buaya di Salareh Aia.

PHOTO JOURNEY

PHOTO JOURNEY

EXPLORE LIFE

One day can change a life, one life can  change

The world with you Explore Life | Explore Bali.

EXPLORE LIFE

One day can change a life, one life can  change

The world with you Explore Life | Explore Bali.

Untuk sampai ke sungai kami harus turun bukit di jalan yang licin karena hujan. Kami berjalan bersama-sama menuruni bukit sampai kami tiba di sebuah lubuak buayo di mana sungai berhenti di sebuah tikungan dan membentuk jalur melingkar tapi terlihat sepi. Biasanya, penduduk sering melihat buaya di lokasi ini.

Untuk sampai ke sungai kami harus turun bukit di jalan yang licin karena hujan.

Kami berjalan bersama-sama menuruni bukit sampai kami tiba di sebuah lubuak buayo di mana sungai berhenti di sebuah tikungan dan membentuk jalur melingkar tapi terlihat sepi. Biasanya, penduduk sering melihat buaya di lokasi ini.

Di Sumatera Barat, orang-orang secara akrab menyebut Inyiak sebagai tokoh yang menonjol dan/atau dihormati dalam suku, biasanya merujuk pada kepala adat, kepala tradisional, atau pejabat pemerintah.

Namun, masyarakat Minangkabau juga menyebut harimau Sumatera sebagai Inyiak Balang. Figur harimau Sumatera digambarkan sebagai pemimpin yang berwibawa. Selain harimau Sumatera, buaya juga disebut Inyiak oleh penduduk Salareh Aia.

Sayangnya, kami tidak melihat Inyiak saat itu. Masih hujan dan kami memutuskan untuk kembali ke basecamp dengan mengikuti aliran sungai. Sepanjang sungai, banyak tanah yang telah dipotong atau mengalami abrasi karena hujan yang cukup deras.

Di Sumatera Barat, orang-orang secara akrab menyebut Inyiak

sebagai tokoh yang menonjol dan/atau dihormati dalam suku, biasanya merujuk pada kepala adat, kepala tradisional, atau pejabat pemerintah. Namun, masyarakat Minangkabau juga menyebut harimau Sumatera sebagai Inyiak balang. Figur harimau Sumatera digambarkan sebagai pemimpin yang berwibawa. Selain harimau Sumatera, buaya juga disebut Inyiak oleh penduduk Salareh Aia.

Sayangnya, kami tidak melihat Inyiak saat itu. 

Masih hujan dan kami memutuskan untuk kembali ke basecamp dengan mengikuti aliran sungai. Sepanjang sungai, banyak tanah yang telah dipotong atau mengalami abrasi karena hujan yang cukup deras.

KANDANG KOMUNAL

Kandang komunal adalah kandang ternak yang dapat digunakan untuk menampung ternak masyarakat. 

Orang-orang di Sumatera Barat, terutama yang tinggal di desa-desa, umumnya memiliki ternak seperti sapi, kerbau, ayam, dan/atau kambing. Biasanya, ternak dilepaskan di halaman/kebun untuk mencari makanannya sendiri di alam dan pemiliknya membawa mereka masuk ke kandang setiap sore.

Namun, di desa-desa di mana sebagian area adalah habitat satwa liar seperti harimau Sumatera, kandang pribadi sering kali menerima serangan sehingga kandang komunal dengan ukuran besar dan pagar yang tinggi dan kokoh lebih efektif dalam melindungi ternak dari serangan satwa liar.

Untuk informasi Anda, harimau Sumatera adalah hewan nokturnal, mereka aktif mencari makanan dari senja hingga fajar, itulah sebabnya ternak perlu dimasukkan ke dalam kandang pada waktu tersebut, sehingga mereka tidak diburu oleh harimau Sumatera yang makanan alaminya adalah daging [karnivora].

KANDANG KOMUNAL

Kandang komunal adalah kandang ternak yang dapat digunakan untuk menampung ternak masyarakat.

Orang-orang di Sumatera Barat, terutama yang tinggal di desa-desa, umumnya memiliki ternak seperti sapi, kerbau, ayam, dan/atau kambing. Biasanya, ternak dilepaskan di halaman/kebun untuk mencari makanannya sendiri di alam dan pemiliknya membawa mereka masuk ke kandang setiap sore.

Namun, di desa-desa di mana sebagian area adalah habitat satwa liar seperti harimau Sumatera

kandang pribadi sering kali menerima serangan sehingga kandang komunal dengan ukuran besar dan pagar yang tinggi dan kokoh lebih efektif dalam melindungi ternak dari serangan satwa liar.

Untuk informasi Anda, harimau Sumatera adalah hewan nokturnal, mereka aktif mencari makanan dari senja hingga fajar, itulah sebabnya ternak perlu dimasukkan ke dalam kandang pada waktu tersebut, sehingga mereka tidak diburu oleh harimau Sumatera yang makanan alaminya adalah daging [karnivora].

Di Sumatera Barat, sampai saat ini hanya ada satu kandang komunal yang dibangun dan terbukti efektif, yang terletak di Desa Salareh Aia. Setelah patroli, kami istirahat sejenak dan menikmati kopi yang disajikan oleh istri anggota PAGARI di Basecamp. Setelah cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan kami ke kandang komunal Salareh Aia.

Di Sumatera Barat, sampai saat ini hanya ada satu kandang komunal yang dibangun dan terbukti efektif, yang terletak di Desa Salareh Aia.

Setelah patroli, kami istirahat sejenak dan menikmati kopi yang disajikan oleh istri anggota PAGARI di Basecamp. Setelah cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan kami ke kandang komunal Salareh Aia.

Perjalanan ke kandang komunal sekitar 3 km dari basecamp. Di perjalanan saya melihat dataran bukit yang telah telanjang dan diganti dengan beberapa perkebunan kelapa sawit.

Melewati bukit-bukit yang gundul, kami memasuki perkebunan kelapa sawit yang berusia sekitar 7 tahun dan kami harus menyeberangi sungai anak.

Sudah sore jadi anggota PAGARI dan salah satu istri menggiring ternak yang sudah dilepaskan pagi di pinggir hutan untuk kembali ke kandang komunal untuk beristirahat. Setelah sapi masuk, kami melanjutkan bercerita di area kandang komunal.

Perjalanan ke kandang komunal sekitar 3 km dari basecamp. Di perjalanan saya melihat dataran bukit yang telah telanjang dan diganti dengan beberapa perkebunan kelapa sawit.

Melewati bukit-bukit yang gundul, kami memasuki perkebunan kelapa sawit yang berusia sekitar 7 tahun dan kami harus menyeberangi sungai anak.

Sudah sore jadi anggota PAGARI dan salah satu istri menggiring ternak yang sudah dilepaskan pagi di pinggir hutan untuk kembali ke kandang komunal untuk beristirahat. Setelah sapi masuk, kami melanjutkan bercerita di area kandang komunal.

Meskipun kandang komunal adalah solusi bagi suatu masalah, ada juga masalah-masalah lain yang timbul dari keberadaan kandang komunal. Salah satu anggota PAGARI mengeluhkan kesadaran masyarakat tentang meninggalkan sapi mereka di kandang komunal. Banyak dari mereka bahkan tidak peduli untuk membersihkan kotoran sapi mereka sendiri.

Kapasitas kandang komunal terasa melebihi, sehingga rehabilitasi atau peningkatan ukuran kandang diperlukan. Akibat kapasitas yang berlebihan, anggota tim PAGARI Salareh Aia mengalami masalah dengan pengelolaan kotoran sapi yang semakin menumpuk.

Ada berberapa permasalahan komunikasi antara PAGARI dan Wali Nagari. Setelah semuanya berunding dan sepakat akan memperbaiki kesalahan komunikasi mereka, kami pun langsung melakukan sesi foto bersama lengkap dengan anggota PAGARI, SINTAS, dan TN. Parrot sebagai penutup perjalanan di Salareh Aie.

Meskipun kandang komunal adalah solusi bagi suatu masalah, ada juga masalah-masalah lain yang timbul dari keberadaan kandang komunal.

Salah satu anggota PAGARI mengeluhkan kesadaran masyarakat tentang meninggalkan sapi mereka di kandang komunal. Banyak dari mereka bahkan tidak peduli untuk membersihkan kotoran sapi mereka sendiri.

Kapasitas kandang komunal terasa melebihi, sehingga rehabilitasi atau peningkatan ukuran kandang diperlukan. Akibat kapasitas yang berlebihan, anggota tim PAGARI Salareh Aia mengalami masalah dengan pengelolaan kotoran sapi yang semakin menumpuk.

Awal pagi kami memiliki rencana untuk bertemu dengan Bapak Walikota pada pukul 9 pagi WIB. Kami menunggu di warung sebelah kantor Walikota Desa.

Setelah semua orang berkumpul, Tn. Parrot, SINTAS, dan Tim PAGARI diundang masuk ke ruang Walikota. Di ruangan ini, Tim PAGARI menyampaikan dan membahas semua masalah mereka dengan pemerintah, dimediasi oleh Tim SINTAS.

Setelah semua orang bernegosiasi dan setuju untuk memperbaiki kesalahan komunikasi mereka, kami segera mengadakan sesi foto kelompok lengkap dengan anggota PAGARI, SINTAS, dan TN. Parrot sebagai penutup perjalanan di Salareh Aia.

Namun, Yayasan SINTAS Indonesia dan BKSDA Sumatera Barat sedang membahas rencana masa depan untuk mengatasi masalah ini.

Setelah kami puas dengan kandang komunal, kami kembali ke basecamp. Tiba di basecamp kami melanjutkan perjalanan kami ke kota terdekat untuk istirahat. Kota terdekat dengan Lubuk Basung. Perjalanan ke Lubuk Basung dari basecamp sekitar 2 jam. Kami memutuskan untuk istirahat di kota Lubuak Basung menunggu agenda besok untuk bertemu dengan Bapak Walikota Desa Salareh Aia.

 

Awal pagi kami memiliki rencana untuk bertemu dengan Bapak Walikota pada pukul 9 pagi WIB. Kami menunggu di warung sebelah kantor Walikota Desa.

Setelah semua orang berkumpul, Tn. Parrot, SINTAS, dan Tim PAGARI diundang masuk ke ruang Walikota. Di ruangan ini, Tim PAGARI menyampaikan dan membahas semua masalah mereka dengan pemerintah, dimediasi oleh Tim SINTAS.

Setelah semua orang bernegosiasi dan setuju untuk memperbaiki kesalahan komunikasi mereka, kami segera mengadakan sesi foto kelompok lengkap dengan anggota PAGARI, SINTAS, dan TN. Parrot sebagai penutup perjalanan di Salareh Aia.

SPONSOR

Kegiatan ini didukung oleh:

Tn. Parrot as the providing funding 

SINTAS as the on-field guide (Sumatra)

Foto Bli Putra

TN. PARROT

TN. PARROT

Pertama kalinya saya jauh melangkah dari tanah timur ke tanah barat untuk melakukan kegiatan foto journey ,saya tidak menyangka saya akan melangkah sejauh ini dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga ini.

Sintas new (3 of 28)

SINTAS

SINTAS

Pertama kalinya saya jauh melangkah dari tanah timur ke tanah barat untuk melakukan kegiatan foto journey ,saya tidak menyangka saya akan melangkah sejauh ini dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga ini.

Sintas (6 of 9)

PAGARI

PAGARI

Pertama kalinya saya jauh melangkah dari tanah timur ke tanah barat untuk melakukan kegiatan foto journey ,saya tidak menyangka saya akan melangkah sejauh ini dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga ini.

Amirudin

PHOTOGRAPHER

PHOTOGRAPHER

Pertama kalinya saya jauh melangkah dari tanah timur ke tanah barat untuk melakukan kegiatan foto journey ,saya tidak menyangka saya akan melangkah sejauh ini dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga ini.

“Suara mereka mungkin tak terdengar, namun perlindungan mereka sangatlah penting. Bersama, mari kita jaga agar satwa liar tetap hidup di alam Sumatra. Dengan bantuan Anda yang sangat berharga, kita bisa membuat perbedaan nyata.”

Donasi ini ditunjukan kepada 

SINTAS INDONESIA

“Suara mereka mungkin tak terdengar, namun perlindungan mereka sangatlah penting. Bersama, mari kita jaga agar satwa liar tetap hidup di alam Sumatra. Dengan bantuan Anda yang sangat berharga, kita bisa membuat perbedaan nyata.”

Donasi ini ditunjukan kepada 

SINTAS INDONESIA